• Advertise

    Advertise Here

    Advertise Here with Misteri

Misteri

misteri alam, keanehan, fenomena…

Misteri SUSU, sebagai kawan atau lawan ?

Secara turun-temurun, banyak orang meyakini, susu adalah minuman yang identik dengan kesehatan. Seolah-olah, kalau ingin memiliki tulang yang kuat, tubuh yang tinggi, kulit yang mulus, bergizi baik dan tidak mudah sakit, yah harus minum susu!

“Itulah sebabnya, suami dan anak-anak juga saya wajibkan untuk minum susu. Minimal dua kali sehari, persis seperti yang sering di iklan-kan di televisi,” tutur Ardhina Sofyan (35 tahun) yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga di Jakarta.

Namun belakangan ini ia mengaku sedang bimbang. Hari demi hari, Ardhina menemukan banyak informasi yang berlawanan dengan keyakinannya itu. Laporan demi laporan dalam jurnal ilmiah yang memuat “dosa” susu terus bertambah. Alih-alih menguatkan tulang dan meningkatkan stamina, susu justru dituding sebagai

biang kerok timbulnya macam-macam gangguan kesehatan. Mulai dari memicu munculnya alergi (malah terjadi pada usia bayi), anemia defisiensi zat besi, osteoporosis (ada kasus dimana seorang ibu lanjut usia yang rutin meminum susu khusus osteoporosis malah terkena osteoporosis saat diperiksa ke dokter), radang lambung, diabetes, gangguan jantung dan pembuluh darah, hingga meningkatkan resiko beberapa jenis kanker.

“Di Social Media seperti mailing-list dan facebook group, susu juga menjadi topik yang tak henti-hentinya diperdebatkan. Baik pihak yang pro maupun kontra, sama-sama memiliki alasan yang masuk akal dan mampu menunjukkan bukti ilmiahnya,” tambahnya.

Perbedaan sudut pandang

Sebagian orang menilai, kontroversi susu semakin memanas karena masing-masing pihak memandang permasalahan dengan sudut yang berbeda. Pihak yang meyakini bahwa manfaat susu tak perlu dibantah lagi, misalnya, lebih memandang susu dari sisi kandungan nutrisi.

“Zat gizi yang terdapat di dalam susu sangat lengkap. Itu sebabnya, susu disarankan untuk meningkatkan asupan nutrisi. Dibandingkan bahan makanan yang lain, kandungan kalsium di dalam susu relatif tinggi, sehingga baik untuk pertumbuhan tulang dan mencegah osteoporosis. Selain itu, prosedur pengolahan dan distribusinya tak sembarangan. Dengan demikian, keamanan susu yang sudah beredar di pasaran tidak perlu di khawatirkan lagi,” tulis Andrianto (bukan nama sebenarnya), dokter anak di Jakarta, di sebuah mailing-list.

Sementara yang kontra, lebih menekankan pada sisi bagaimana susu tersebut dicerna oleh sistem metabolisme. Prof. Jane Plant, PhD, CBE menulis pengalaman pribadi akibat susu yang dikonsumsi mengakibatkan kanker payudara. Atau seperti yang ditulis oleh Prof. Dr. Hiromi Shinya, ahli pencernaan dari Surgery Albert Einstein College of Medicine, New York, Amerika Serikat. Dalam bukunya yang berjudul The Miracle of Enzyme, ia mengatakan, susu adalah makanan terburuk bagi manusia dewasa.

the miracle of enzyme

Alasan Prof. Dr. Hiromi Shinya mengatakan tersebut karena kandungan di dalam susu mengganggu fungsi enzim di dalam tubuh sehingga membuat tugas usus dan organ pencernaan lain menjadi lebih berat dalam mencerna makanan. Enzim induk yang seharusnya di hemat untuk pertumbuhan dan menjaga agar tubuh tetap sehat malah dipakai secara boros. Itu sebabnya, menurut Prof. Dr. Hiromi Shinya, peminum susu lebih rentan terkena gangguan kesehatan, baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.

Minum susu, pada awalnya

Jika manfaat susu sudah mendarah daging di kepala setiap orang, itu bisa dimaklumi. Sejak jaman dahulu kala, peradaban manusia memang telah mengenal susu sapi sebagai bahan konsumsi.

Para ahli sejarah memperkirakan, sekitar tahun 8000 Sebelum Masehi (SM), orang-orang di kawasan Timur Tengah seperti Mesopotamia, Mesir dan Yunani sudah memelihara sapi di rumah mereka. Susunya untuk diminum, dagingnya dimakan, sementara bulu dan kulitnya dimanfaatkan untuk membuat pakaian. Kemudian mulai tahun 5000 SM, manfaat susu tersebut mulailah di kenal oleh para pelaut Eropa yang berlayar ke sana. Pada abad ke-15, para pelaut itu mulai membawa sapi perah asal Timur Tengah untuk dibawa ke negeri asalnya.

Awalnya, sapi perah di Eropa dipelihara secara pribadi dan diternakkan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Beberapa sumber mencatat, pola produksi susu mulai berubah sejak terjadinya Revolusi Industri yang melanda Eropa pada sekitar abad ke-17. Sejak saat itu, susu menjadi komoditi yang di nilai menghasilkan banyak keuntungan dan diproduksi secara besar-besaran. Berbagai teknologi pengolahan susu ditemukan dan susu mulai dapat di temukan dalam beberapa bentuk, mulai dari susu segar, susu cair yang sudah dipasteurisasi, hingga susu bubuk.

Di negeri kita sendiri, tradisi minum susu baru dikenal sekitar abad ke-18 yaitu sejak Belanda menjajah Indonesia. Harganya yang sangat mahal sehingga hanya dapat dikonsumsi oleh kalangan tertentu. Dan tidak mengherankan kalau saat itu susu sangat identik dengan barang mewah dan di anggap bergengsi tinggi.

Susu semakin populer di Indonesia sejak slogan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang di sosialisasikan pada tahun 1950-an. Pada saat itu, kita belum lama menikmati kemerdekaan. Orang-orang bertubuh tulang dibalut kulit, bermata cekung, berwajah pucat karena anemia dan terancam buta karena kurang gizi ada di mana-mana.

Itulah sebabnya, Prof. Poorwo Soedarmo, ahli gizi yang kemudian dikenal sebagai Bapak Gizi Indonesia berpendapat, masyarakat perlu memiliki pedoman tentang pola makan untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pola tersebut berisi empat kelompok makanan yang wajib dikonsumsi setiap hari, berupa makanan pokok (karbohidrat sumber tenaga), lauk pauk, sayur mayur, dan buah-buahan. Karena susu sudah mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral sekaligus, ditambahkanlah ia sebagai bahan makanan yang melengkapi semua kebutuhan nutrisi tadi.

Karena pada awal peluncuran slogan itu masyarakat belum menyadari pentingnya peran nutrisi, Prof. Poorwo Soedarmo juga mendidik kader-kader gizi. Merekalah yang bertugas mensosialisasikan pedoman tersebut ke seluruh lapisan masyarakat. Seiring dengan digaungkannya slogan “Empat Sehat Lima Sempurna”, manfaat susu semakin dikenal di mana-mana.

Salah kaprah

Di saat yang sama, kalangan industri memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai isu yang berpotensi untuk dijual secara komersial. Iklan diciptakan, seolah-olah menggambarkan bahwa susu merupakan makanan “sakti” dalam mencegah keropos tulang, mengoptimalkan pertumbuhan dan identik dengan gizi baik.

Susu pun resmi dianggap wajib dalam daftar makanan sehari-hari. Simak pengalaman Wida (34 tahun), ibu rumah tangga yang berdomisili di Setiabudi, Jakarta Selatan. “Kalau belum menyajikan susu, seperti ada yang kurang. Rasanya seperti belum bisa memberikan makanan sehat buat keluarga,” tuturnya.

Ronny (47 tahun), pengemudi taksi di Jakarta, juga mengakui, “Saya kerja banting tulang demi susunya anak-anak. Bisa beliin susu buat mereka, rasanya seperti kepuasan tersendiri. Nggak apa-apa deh, minum susu kental manis yang harganya terjangkau. Yang penting setiap hari anak-anak bisa minum susu!” katanya, penuh percaya diri. Lucunya, perasaan itu tidak muncul jika di saat yang sama mereka “lupa” menyajikan tahu, tempe, sayur-sayuran, atau buah-buahan.

Sementara Dahlia (31 tahun), karyawati di Semarang, lain lagi. Ia menganggap, susu merupakan makanan sempurna yang bergizi komplit sehingga bisa menggantikan peran sumber makanan lainnya. “Kalau anak-anak sedang sulit makan, selama masih mau minum susu saya sudah tenang. Toh, susu juga mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lain,” dalihnya.

Harus diakui, slogan “Lima Sempurna” yang pernah mengacu pada susu membuat banyak orang mengira bahwa komponen makanan yang terdapat dalam Empat Sehat belum komplit jika belum disertai susu. Selain itu, karena disandingkan dengan kata “sempurna”, susu juga sering menjadi jawaban instan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.

Susu memang bermanfaat, tetapi…

Menurut Dr. David Fadjar Putra, SpGK, MS, dokter spesialis gizi klinik yang berpraktik di RS Pondok Indah, Jakarta, jika dikaitkan dengan kandungan nutrisi di dalamnya, manfaat susu memang tidak perlu diperdebatkan lagi. “Namun yang perlu diingat, susu merupakan bahan makanan yang posisinya tidak lebih hebat dari sumber protein yang lain, seperti daging, ayam, ikan, tahu, tempe, kacang-kacangan, biji-bijian, polong-polongan.” tegasnya.

Andang Gunawan, ND, ahli terapi nutrisi di Jakarta, menambahkan, alangkah baiknya, jika efek susu terhadap kesehatan tidak semata-mata ditinjau dari kandungan nutrisinya saja. Melainkan, juga memperhatikan bagaimana sapi itu diternakkan, apa makanannya, bagaimana susu diproses dan yang lebih penting lagi, bagaimana tubuh kita merespon kandungan di dalamnya.

“Sebelum ada pabrik susu, sapi perah diternakkan secara alami dan hanya makan rumput. Kini, untuk memenuhi target produksi, sapi tidak terhindarkan lagi dari pangan buatan, suntikan hormon supaya cepat besar dan menghasilkan susu lebih banyak, serta memperoleh antibiotik agar terhindar dari penyakit. Jika susu dari sapi yang sudah mengalami perubahan pola makan dan gaya hidup ini dikonsumsi, semua zat serta sampah metabolismenya juga dapat mempengaruhi kesehatan manusia,” jelasnya.

Sapi Artificial

Sapi Artificial adalah hewan herbivora yang diberi pakan meat bone meal (makanan sapi buatan berbasis protein hewani) juga beresiko membentuk mekanisme penolakan dengan membentuk prion, senyawa protein asing di dalam tubuhnya. Jenis protein ini, diduga yang menjadi cikal bakal merebaknya penyakit sapi gila (mad cow).

Selain itu, bovine growth hormone, hormon pertumbuhan untuk sapi, merupakan senyawa kimia yang tidak dapat dipecah di dalam lambung atau dirusak oleh proses pasteurisasi, sehingga akan tetap aktif di dalam tubuh manusia. Ini sudah diteliti oleh Juskevich dan G. Guyer dalam penelitiannya yang berjudul “Bovine Growth Hormone: Human Food Safety Evaluation,” dan dimuat dalam jurnal Science, Vol. 249, no. 4971 (1990).

Di Indonesia, data pasti mengenai sapi yang diberi hormon dan antibiotik masih sulit ditemukan. Namun bukan berarti kasus semacam ini tidak terjadi. Sebagai gambaran, penelitian Mirnawati Sudarwanto dan rekan-rekan, yang berjudul “Residu Antibiotika dalam Susu Pasteurisasi Ditinjau dari Kesehatan Masyarakat, Higiene, dan Penyakit Ternak” menyebutkan, 32,52 persen susu pasteurisasi dan 31,1 persen susu segar di wilayah Jakarta, Bogor, dan Bandung, mengandung residu antibiotik dalam jumlah yang cukup tinggi.

Menyisakan sampah metabolisme

Masalah juga muncul setelah susu masuk pabrik. Sebelum dipasarkan, susu dipanaskan dengan suhu tertentu agar untuk menghambat pertumbuhan kuman patogen dan berbagai flora di dalamnya, bahkan membasminya hingga mati. Proses yang disebut pasteurisasi ini terbukti merusak komponen struktur kimia di dalam susu dan membuat gula laktosa di dalamnya diserap lebih cepat oleh tubuh (Levy, T.E, dalam Optimal Nutrition for Optimal Health, 2001).

Lonjakan zat gula di dalam darah – apa pun bentuknya termasuk sukrosa (gula yang sering ditambahkan dalam produk susu), secara otomatis akan memerintahkan tubuh untuk mengeluarkan hormon insulin. Pada dasarnya, insulin ini memang bertugas mulia, yaitu menjaga agar kadar gula darah di dalam tubuh kita tetap berada pada level yang aman. Namun lonjakan gula yang tinggi akan membuat produksi insulin meroket, ketika berusaha menekan kadar gula dan menyimpan hasil olahannya dalam hati.

Sayangnya, daya tampung hati bersifat terbatas. Bila makanan jenis ini dikonsumsi secara terus-menerus, kelebihan kadar gula tersebut akan diubah menjadi tumpukan lemak. Sel-sel lemak ini bersifat menarik asam arakidonat (AA), sebagai bahan baku terbentuknya eicosanoids, sejenis hormon peradangan. Mekanisme tersebut memicu timbulnya peradangan di tingkat sel, yang memancing terbentuknya cytokine, protein radang yang mampu menembus masuk ke aliran darah, beredar ke seluruh tubuh, dan menimbulkan bermacam-macam penyakit.

Makanan transisi

Selain itu, pada dasarnya, susu merupakan makanan sementara yang diciptakan Tuhan untuk manusia, ketika gigi dan sistem pencernaannya belum cukup sempurna.

Ada banyak alasan medis mengapa ASI hanya dianjurkan hingga anak berusia dua tahun. Menurut Dr. Tan Shot Yen, M.Hum, kandidat doktor nutrisi komunitas SEAMEO/UI, dalam Laporan Khusus Nirmala (Juli 2010), itu disebabkan, mulai usia dua tahun gigi manusia mulai komplit, enzim-enzim di sepanjang saluran pencernaan telah siap dan organ-organ di dalamnya juga sudah kuat untuk mengonsumsi makanan padat.

Sebaliknya pada saat yang sama, sebagian enzim yang bertugas mencerna susu sudah tidak bekerja secara optimal lagi, bahkan pensiun. Salah satunya adalah laktase, enzim pencerna laktosa (zat gula yang terdapat dalam susu mamalia). Beberapa gejala yang sering muncul saat minum susu, seperti mual, muntah, perut bergemuruh, kembung, diare, atau bentuk alergi lain, merupakan sinyal yang menandakan ketidakmampuan tubuh dalam mencerna laktosa.

“Menipisnya stok enzim laktosa saat manusia beranjak dewasa, pada hakikatnya merupakan cara alam untuk mengatakan bahwa susu bukan makanan untuk orang dewasa,” jelasnya.

Justru menarik kalsium

Banyak orang minum susu dengan harapan kalsium di dalam susu akan membuat tulang lebih kuat dan mencegah osteoporosis. Seperti semboyan “Makin banyak tabungan kalsium, makin baik!”, yang diyakini oleh Givanando (33 tahun), karyawan di Jakarta.

Faktanya, mekanisme penyerapan kalsium di dalam tubuh tidak sesederhana itu. Menurut Andang, penyerapan kalsium memerlukan bantuan protein. “Susu memang mengandung kalsium sekaligus protein yang tinggi. Namun, untuk mencerna kalsium, jumlah protein ini terlalu tinggi sehingga justru menyulitkan proses penyerapan,” jelasnya.

Organ tubuh dapat bekerja dengan baik pada ketika asam basa darah dan jaringan mempunyai pH 7,35 – 7,45. Sementara, susu cenderung bersifat asam (pH 6,5 – 6,7). Jika dikonsumsi secara berlebihan atau tanpa diiringi mengonsumsi makanan lain secara seimbang, tubuh menjadi terlalu banyak menerima makanan cenderung asam. Ketika kalsium yang terdapat di dalam susu masuk ke dalam darah, secara alamiah tubuh akan berusaha mengembalikan situasi “abnormal” ini dengan membuang kalsium dari ginjal, melalui urin. Akibatnya, kita justru memboroskan cadangan kalsium di dalam tubuh.

Selain faktor ras, pola konsumsi susu yang terlalu berlebihan diduga turut menyumbang faktor mengapa empat negara pengonsumsi susu terbesar di dunia, yaitu Amerika, Swedia, Denmark dan Finlandia, justru menduduki peringkat-peringkat teratas dalam kasus osteoporosis.

Harus bagaimana?

Baik Dr. David dan Andang sepakat, agar tetap sehat, susu perlu dipandang secara lebih objektif. Susu memang mengandung zat-zat gizi yang bermanfaat bagi kesehatan, namun gizi yang baik tidak identik dengan susu. Gizi yang baik identik dengan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, serta mineral yang berkualitas, dikonsumsi secara bervariasi agar unsur-unsur di dalamnya saling melengkapi.

“Bagi orang yang tidak mengidap intoleransi laktosa dan memang menyukainya, misalnya, susu boleh-boleh saja diminum. Namun jika tubuh terasa kurang nyaman setiap kali mengonsumsi susu, tidak perlu memaksakan diri. Keinginan mengonsumsi susu bisa diobati dengan makan yoghurt yang lebih mudah dicerna (karena sudah difermentasi), dan asupan kalsium bisa diperoleh dari bahan makanan lain. Mulai dari kacang-kacangan, bayam, brokoli, selada air, wijen, ikan teri, sardin dan masih banyak lagi,” jelas Dr David.

Andang mengatakan, tidak benar bahwa semua kasus pengeroposan tulang harus diberi tambahan kalsium. Tulang orang berusia lanjut kepadatannya tidak mungkin dapat dibandingkan dengan usia ketika ia masih muda. Jadi yang dibutuhkan adalah gaya hidup yang lebih sesuai dengan kondisinya.

Begitu pula dengan pengeroposan tulang yang disebabkan oleh kurang nutrisi. Jalan keluarnya bukan dengan memberi susu, melainkan memberikan edukasi mengenai pola makan berbasis gizi seimbang yang sesuai dengan situasi dan kondisinya. Masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan dan sulit menemukan ikan laut, misalnya, tetap bisa memperoleh asupan kalsium dari sayur-sayuran.

Jangan lupa, tubuh manusia merupakan rangkaian sistem yang satu sama lainnya saling berhubungan. Kalsium, baru bisa diserap dengan baik jika dibarengi dengan aktivitas dan bantuan dari vitamin D, yang terdapat pada sinar matahari. Maka, sempatkanlah untuk beraktifitas secara fisik, di bawah hangatnya mentari pagi. Proses metabolisme tadi juga memerlukan air, sehingga ibu hamil harus cukup minum air putih. Ukurannya tidak terpatok 8 gelas sehari, namun dilihat dari warna air seni yang mendekati jernih.

Kesehatan yang hakiki adalah soal keseimbangan dan penyesuaian. “Dengarkan dan ikuti saja isyarat tubuh. Ketika tubuh kita mengeluh, seringkali yang salah bukan makanannya, namun cara kita memperlakukan mereka. Selain itu, makanan sebaik apapun, efeknya juga akan tidak baik jika dikonsumsi secara berlebihan,” pungkasnya.(N)

SUSU
Lain nama, lain pula kandungannya…

Warna boleh sama putih. Namun cara pemrosesan ternyata membuat kandungan mereka jadi berbeda-beda. Kenali, dan sesuaikan dengan kebutuhan Anda.

Susu segar

Pouring Milk into Glass

Dihasilkan dari hewan ternak perahan, seperti sapi, kerbau, kambing, domba dan kuda. Asam lemak susunya belum rusak akibat proses pengawetan. Di pasaran, tersedia dalam bentuk mentah maupun yang sudah dipanaskan.

Susu bubuk

susu-bubuk

Terbuat dari susu segar yang telah dikeringkan menjadi bentuk bubuk. Sering ditambahkan zat-zat gizi tertentu, seperti vitamin dan mineral. Dari segi usia, susu bubuk paling tahan lama dibandingkan susu lainnya.

Susu pasteurisasi

susu-pasteurisasi

Merupakan susu segar yang mengalami proses pemanasan 72 derajat Celcius selama 15 detik. Pasteurisasi hanya mampu menghambat pertumbuhan spora tapi tidak dapat mematikan sporanya, sehingga jenis susu ini perlu disimpan dalam lemari pendingin bersuhu 5 – 6 derajat Celcius. Usianya sangat pendek, hanya bertahan selama 2 minggu.

Susu homogenisasi
Merupakan susu pasteurisasi yang diproses lebih lanjut menggunakan tekanan tinggi agar butiran-butiran lemaknya menjadi lebih halus. Ciri khasnya, lemak susu tidak mengapung di permukaan. Supaya tidak cepat rusak, ia harus selalu disimpan dalam lemari pendingin.

Susu UHT(Ultra High Temperature)
Disebut demikian, karena susu ini diproses menggunakan metode sterilisasi pada suhu amat tinggi (130 – 150 derajat Celcius) dalam waktu yang amat singkat (0,4 – 4 detik). Dengan cara ini, seluruh mikroba dapat dimusnahkan. Selama kemasannya tidak rusak, ia mampu bertahan hingga 10 bulan dan tidak perlu disimpan dalam lemari pendingin.

Susu evaporasi (kental manis)
Susu ini dihasilkan melalui proses penguapan hingga cairan susu menguap dan menjadi pekat. Pemrosesan ini membuat beberapa vitamin rusak, sehingga ia perlu ditambah dengan vitamin A, D dan E. Kandungan gulanya sangat tinggi, sehingga lebih disarankan untuk kepentingan kuliner, bukan kesehatan.

Susu full cream
Susu yang diperoleh dari bagian yang mengambang di permukaan – saat susu dipanaskan. Sangat kaya akan lemak. Di pasaran, tersedia dalam bentuk cair maupun bubuk.

Susu skim
Susu skim dibuat dari bagian susu yang tertinggal setelah bagian yang mengambang saat dipanaskan diambil untuk diolah menjadi susu full cream. Kandungan zat gizinya sama dengan susu segar, kecuali lemak dan vitamin yang larut dalam lemak. (N)

Copyright of NIRMALA Magazine

Oleh: Dyah Pratitasari
Laporan Khusus Majalah Nirmala 11/Tahun 12, edar 1 November 2011

Categories: misteri